Wednesday, January 29, 2025

Manusia Berpikiran Sempit vs Berpikiran Luas

Assalamu'alaikum wr. wb.

Seringkali terasa ada yang "kurang" ataupun "salah" tentang hal yang terjadi dalam kehidupan atau pada saat mengomentari sesuatu atau seseorang. 

Tapi sebentar, jangan-jangan bukan "Dia/Itu" yang salah atau kurang tetapi cara berpikir ini yang sempit sehingga tidak bisa menjangkau hal yang sebenarnya.

Contoh kecil: 

1. Makanan yang biasa kita makan akan dianggap lebih enak dibandingkan makanan orang lain /suku lain yang tidak biasa kita makan.

2. Model pakaian yang kita kenakan akan terasa lebih bagus dibanding model pakaian orang lain  yang tidak biasa kita pakai.

Contoh lebih besar: 

1. Dalam hal memiliki masalah dengan orang lain seringkali setiap pihak merasa bahwa dirinyalah yang benar.

2. Sering memaksakan kehendak atau cara berpikir kita kepada orang lain.

"Kita benar mereka salah"

"Seharusnya begini bukan begitu"

Akhirnya hidup akan selalu diwarnai dengan pertengkaran karena perbedaan, 

Menjelekkan/memandang rendah karena dianggap tidak sesuai dengan versi kita.

Tanpa sadar kita memaksakan sesuatu kepada cara berpikir kita, cara pandang kita (yang mungkin masih perlu banyak belajar)

Mengapa itu bisa terjadi:

Biasanya itu terjadi karena tidak ada sesuatu yang dijadikan standar bersama dalam memandang sesuatu dan bisa juga karena kurang ilmu atau pengalaman atau wawasan, atau apalah namanya ... you name it.

"Pakaiannya sangat aneh dan tidak modern"

"Mengapa Tuhan membuat aturan begini?"

"Hidup harusnya begini".

Dst

Saya belajar bahwa untuk menjawab sesuatu dengan benar seseorang haruslah belajar terus dan jangan merasa selalu benar/pintar sehingga dengan mudah menganggap yang lain kurang pintar.

Bersabar dan tidak reaktif dalam merespon suatu kejadian yang tidak enak. Tunggu beberapa saat pikirkan baru bertindak.

Bisa jadi pandangan hari ini bisa berubah keesokan harinya setelah bertambah ilmu.

Apa lagi bila hal terebut berkaitan dengan aturan hidup yang sudah diberikan Tuhan.

Sadarilah sebagai manusia kita hanya punya satu otak dan satu raga. Tidak bisa terbang ke langit dan tidak bisa menembus bumi. Tidak kebal dengan api dan akan termakan dengan waktu. Tidak bisa menahan panas dan terik matahari, ataupun dinginnya es/salju. Apa lagi? Teruskan ya....

Lalu apa yang mau disombongkan?

Dimana tempat manusia dan dimana tempat Tuhan yang begitu agung dan berkuasa menciptakan alam dunia dan akhirat? 

Siapa yang lebih mungkin salah? Pencipta atau yang diciptakan?

Kita adalah makhluk jadi tentu saja tidak berhak mengatur Sang Pencipta, terlebih menyalahkan aturan-Nya.

Luaskan cara berpikir kita dengan berprasangka baik bahwa kita harus belajar untuk mengerti.

Menerima pandangan yang berbeda dari orang lain tanpa menghakimi dan tetap saling menghormati.

Islam mengajarkan banyak hal dan sungguh rugi mereka yang tidak mau belajar.

As.

No comments:

Post a Comment

Cetak Biru Kehidupan Akhirat versi Islam - Referensi Al-Quran dan Hadits

Mengapa Akhirat Digambarkan Secara Fisik? Mengintip Cetak Biru Waktu dan Sensorik Manusia Pernahkah Anda membuka lemari es atau rak dapur, l...